Selasa, 15 Januari 2013

Kesaksian Dr. Richard Teo Keng Siang


Dr Richard Teo Keng Siang
 

 Richard ingin berbagi kisahnya dengan Anda. Kita melakukan hal ini untuk melanjutkan karyanya. Tolong bacalah dan berikan kepada seseorang untuk mendapatkan manfaat dari kisahnya. Jika Anda inginkan catatan ini, tolong beritahukan kepada keluarganya atau sahabatnya, dan kami akan menyediakan baik rekaman audio atau transkripnya. Terima kasih dan semoga Allah memberkati Anda dengan berlimpah. Di bawah ini adalah transkrip percakapan Dr. Richard Teo, yang adalah milioner 40 tahun, ahli bedah kosmetik yang menderita kanker paru stadium 4,  di Persekutuan Dokter Gigi Kristen, pada tanggal 24 November 2011, 8 bulan setelah diagnosisnya.

LATAR BELAKANG
Hai, selamat pagi. Suara saya agak serak karena kemoterapi (pengobatan bagi kanker), jadi bersabarlah untuk saya. Saya akan memperkenalkan diri saya. Nama saya Richard. Saya adalah kawan Danny, yang mengundang saya ke sini.
Saya mulai dengan mengatakan bahwa saya adalah produk khas masyarakat hari ini. Sebelumnya, saya telah membicarakan bagaimana media masa mempengaruhi kita, dst. Maka, saya adalah produk khas dari apa yang digambarkan oleh media masa. Sejak muda, saya telah berada di bawah pengaruh dan kesan bahwa menjadi bahagia berarti menjadi orang sukses. Dan menjadi sukses itu berarti menjadi kaya. Jadi saya mengarahkan hidup saya pada semboyan ini.
Berasal dari latar belakang keluarga menengah ke bawah, dulunya, saya sangat senang bersaing, baik di bidang olahraga, pelajaran, dan kepemimpinan. Saya meninginkan semuanya. Saya ada di sana, melakukan semua itu. Tetapi pada ujungnya, segalanya tetap berkaitan dengan uang.
          Jadi pada penghujung hidup saya, saya adalah murid di bagian oftalmologi (spesialis mata), tetapi saya tidak sabar, karena saya memiliki teman-teman yang telah menjalankan praktek pribadi untuk menghasilkan uang. (Pada masa itu, spesialis mata merupakan jurusan yang paling diminati). Sedangkan saya sendiri, terperangkap dalam pelatihan. Maka, saya berkata, “Cukup, ini terlalu lama.” Saat itu, ada bidang medis jurusan bedah kosmetik. Saya yakin Anda menyadari bahwa, bagian kosmetik mencapai puncaknya pada beberapa akhir tahun belakangan ini, dan saya melihat banyaknya uang di sana. Begitu banyaknya uang, sehingga saya berkata, “Lupakan spesialis mata, saya akan menjalani bagian kosmetik.” Begitulah akhirnya apa yang saya lakukan.
Kenyataannya, di lingkungan kita, tidak ada pahlawan dihasilkan dari sekedar praktek dokter umum. Tidak ada. Para pahlawan berasal dari selebritis kaya, politisi kaya, orang kaya, dan orang terkenal. Jadi, saya ingin menjadi salah satu dari mereka. Saya langsung menyelami bidang medis kosmetik. Dulu orang tidak rela membayar praktek dokter umum saya. Apapun yang melebihi biaya $30, akan menyebabkan mereka mengeluh, “Wah, dokter ini benar-benar mahal.” Mereka ribut dan tidak senang. Tetapi orang yang sama akan dengan sukarela membayar $10,000 bagi sedot lemak. Maka, saya berkata, “Baiklah, saya akan berhenti menyembuhkan orang sakit, saya akan menjadi dokter kosmetik; seorang dokter terlatih di bidang kosmetik.”
Itulah yang saya kerjakan – sedot lemak, memperbesar buah dada, bedah kelopak mata, Anda sebut apa yang Anda inginkan, kita akan mengerjakannya. Itu mendatangkan sangat banyak uang. Klinik saya ketika kami memulainya, pasien harus mengantri 1 minggu; 1 bulan; menjadi 2 bulan; menjadi 3 bulan. Begitu banyaknya permintaan sehingga orang-orang rela mengantri hingga tiba saatnya mereka mendapat penanganan kecantikan. Para wanita yang hampa – dengan penghidupan yang nyaman.
Maka, klinik saya berkembang. Saya sangat diduduki oleh situasi ini, dari 1 dokter, saya mempekerjakan 2, lalu 3, kemudian 4 dokter, dst. Tidak pernah puas. Saya ingin lebih dan lebih dan lebih. Begitu gencarnya, hingga kami mendirikan toko di Indonesia untuk mengumpan semua nyonya Indonesia. Kami membangun toko, merekrut orang-orang di sana, untuk mendapatkan lebih banyak pasien Indonesia datang.
Jadi, segalanya berjalan dengan baik. Saya di sana, waktunya telah tiba. Kira-kira di bulan Pebruari tahun lalu, saya berkata, “OK, saya telah memiliki banyak uang berlebih, ini waktunya untuk mendapatkan Ferrari pertama saya. Jadi, saya telah siap untuk menyisihkan uang bagi keperluan itu. “OK! Ferrari pertama saya datang!” Saya mencari tanah, untuk berbagi bersama beberapa teman saya. Saya memilki seorang teman yang bekerja di bank, yang berpendapatan $5 juta setahun. Maka, saya berpikir, “Kemari, marilah kita bersama-sama. Marilah membeli beberapa tanah dan mendirikan rumah-rumah kita.”
Saya berada di puncak, siap untuk menikmati. Pada waktu bersamaan, teman saya Danny mengalami kebangunan (rohani). Mereka kembali ke gereja, juga beberapa sahabat saya. Mereka menganjuri saya, “Richard, mari, bergabung bersama kita, kembalilah ke gereja.”
Saya telah menjadi orang Kristen selama 20 tahun; saya telah dibaptis 20 tahun yang lalu, tetapi hal itu terjadi karena sedang tren menjadi orang Kristen. Semua teman saya menjadi orang Kristen. Itu keren! Saya mau dibaptis, sehingga ketika mengisi formulir, saya bisa menuliskan “Kristen” – tampaknya bagus. Kenyataannya, saya tidak pernah memiliki Alkitab; saya tidak mengetahui apa yang dikatakan Alkitab.
Saya pergi ke gereja sejangka waktu, tetapi kemudian, saya merasa capek. Saya berkata pada diri sendiri, inilah waktunya untuk pergi bersenang-senang, stop pergi ke gereja. Saya mempunyai banyak hal untuk dikejar di NUS (National University of Singapore) – perempuan, pelajaran, olahraga, dll. Lagipula, saya telah mencapai semua hal ini tanpa Allah, jadi siapa yang memerlukan Allah? Diri saya sendiri dapat meraih apapun yang saya inginkan.
Dalam keangkuhan, saya memberitahu mereka, “Tahukah kamu? Pergilah, beritahu  pendetamu untuk mengubah waktu kotbah menjadi jam 2 siang. Saya akan mempertimbangkan untuk datang ke gereja.” Sangat sombong! Dan saya mengatakan 1 pernyataan sebagai tambahan – sampai hari ini, saya tidak mengetahui..., saya menyesal telah mengatakan hal itu – saya memberitahu Danny dan teman-teman saya, “Jika Allah memang menginginkan saya kembali ke gereja, Dia akan memberikan saya tanda.” Lihatlah, 3 minggu kemudian, saya kembali ke gereja.

DIAGNOSIS
Sekitar bulan Maret 2011, saat langit biru – seperti biasanya saya melakukan lari berkeliling - karena saya adalah pengemar olahraga dan saya selalu pergi ke tempat olahraga – lari, berenang 6 hari seminggu. Saya merasakan nyeri di bagian punggung. Itu saja yang saya rasakan, tetapi nyeri itu menetap. Oleh karenanya, saya berencana untuk menjalani pemeriksaan MRI guna menyingkirkan kemungkinan ada “urat kejepit”. Satu hari sebelum saya melakukan pemindaian MRI itu, saya masih di tempat olahraga, mengangkat beban berat, melakukan latihan angkat berat. Namun keesokan harinya saat laporan hasil pemindaian MRI keluar, saya menemukan bahwa separuh dari tulang belakang saya bergeser. Saya berkata, “Hah, apaan itu?”
Kami menerima hasil PET scan sehari sesudahnya, dan mereka mendiagnosis, saya terkena kanker paru tahap akhir, stadium 4B. Kanker itu telah menyebar ke otak, separuh tulang belakang, semua bagian paru-paru saya dipenuhi tumor, juga organ hati, adrenal...
Saya berkata, “Tidak mungkin, saya baru saja di tempat olahraga kemarin malam, apa yang terjadi?” Saya yakin kalian mengetahui bagaimana rasanya  itu – walaupun saya tidak yakin jika kalian mengetahui bagaimana rasanya. Tidak lama setelah saya berada di puncak, besoknya, kabar ini datang dan saya benar-benar hancur. Dunia saya begitu saja terjungkir.
Saya tidak bisa menerimanya. Kerabat saya di kedua belah pihak, pihak ibu dan ayah saya, ada 100an orang, dan tidak satupun yang memiliki kanker. Bagi saya, di dalam benak saya, saya memiliki gen (sifat keturunan) yang bagus, saya tidak semestinya mempunyai penyakit ini! Beberapa kerabat saya adalah perokok berat. Namun kenapa saya yang mempunyai kanker paru? Saya dalam masa penyangkalan.

PERHITUNGAN DENGAN ALLAH
Keesokan harinya, saya masih dalam tahap penyangkalan, tetapi tidak dapat menerima apa yang terjadi. Saya berada di ruang operasi di rumah sakit, untuk menjalani biopsi (pengambilan sedikit jaringan tumor- biasanya bagi penetapan jenis kanker dan pengobatan yang spesifik untuk jenis itu). Saat telah selesai dilakukan biopsi dan masih berbaring di ruang operasi. Para perawat dan dokter telah pergi; mereka memberitahu saya supaya saya menunggu 15 menit untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan Rontgen guna memastikan tidak adanya “pneumothoraks” (komplikasi akibat kanker paru – di mana selaput paru berisi udara sehingga dapat menekan paru-paru; paru-paru tidak dapat mengembang dan mengempis).
Pada waktu berbaring di meja operasi, menerawang ke langit-langit ruang operasi yang dingin dan sunyi. Tiba-tiba saya mendengar suara di batin saya; suara itu tidak berasal dari luar, namun dari dalam. Suara batin yang lembut itu tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Dan suara itu secara khusus berkata, “Ini terjadi pada dirimu, pada masa kejayaanmu, karena hanya itulah satu-satunya jalan bagimu untuk memahami.”
Saya berkata, “Hah, dari mana itu berasal?” Anda tahu, ketika Anda berbicara kepada diri sendiri, Anda akan berkata, “OK, kapan SAYA harus meninggalkan tempat ini? Di mana SAYA akan makan malam setelah ini?” Anda berbicara dari sudut pandang orang pertama (kata ganti orang pertama – SAYA). Anda tidak akan berkata, “Ke mana KAMU pergi setelah ini?” Namun sebaliknya, suara itu berbicara sebagai orang ketiga. Suara itu berkata, “Ini terjadi pada diriMU, pada masa kejayaanMU, karena hanya itulah satu-satunya jalan bagiMU untuk memahami.” Saat itu juga, saya penuh emosi dan saya remuk dan menangis, sendirian di sana. Dan saya mengetahui kemudian, setahap demi setahap, tentang apa maksudnya “untuk memahami” dan mengapa “inilah satu-satunya jalan”.
Karena saya sangat bangga diri, di sepanjang hidup saya, saya tidak memerlukan orang lain. Saya dianugerahi kepandaian yang membuat saya dapat melakukan banyak hal, mengapa saya perlu orang lain? Saya puas dengan diri saya sendiri, sehingga tidak ada jalan bagi saya untuk kembali kepada Allah.
Seandainya saya terdiagnosa pada stadium 1 atau 2, saya akan sangat sibuk mencari dokter bedah bagian dada yang terbaik, memotong sebagian dari paru-paru (“lobektomi”), melakukan kemoterapi pencegahan... Kesempatan untuk disembuhkan sangatlah tinggi. Siapa yang memerlukan Allah. Namun stadium yang saya miliki 4B. Tidak seorang pun yang dapat membantu, hanya Allah yang bisa.
Serangkaian kejadian saya alami setelah peristiwa itu. Saya tidak segera berpaling setelah itu. Tidak karena suara batin itu, lantas saya menjadi orang percaya, menjadi pendoa, dsb. Tidak demikian. Bagi saya, suara itu mungkin hanyalah sebuah suara; atau mungkin saya sedang berbicara pada diri sendiri. Saya tidak mudah percaya oleh kejadian itu.
Keesokan harinya, saya sedang mempersiapkan diri untuk kemoterapi. Saya akan mulai diterapi dengan sinar radiasi pada seluruh bagian otak saya; memakan waktu sekitar 2-3 minggu. Dalam tenggang waktu itu mereka memberikan kepada saya kemoterapi, suplemen, dll. Salah satu obat yang dipakai untuk kemo bernama Zometa. Zometa – dipakai untuk menguatkan tulang; begitu tulang belakang dibersihkan dari sel-sel kanker, tulang itu menjadi berlubang, jadi saya membutuhkan Zometa untuk menguatkan tulang dan mencegah patah tulang akibat tekanan.
Namun salah satu efek samping Zometa adalah “osteonekrosis” (sel-sel tulang menjadi mati) pada rahang, dan oleh karenanya gigi geraham bungsu saya harus dicabut. Beberapa tahun lalu, gigi geraham bungsu di rahang bagian atas saya dicabut, karena menyulitkan saya. Geraham bungsu di rahang bawah tidak bermasalah, sehingga waktu itu saya berkata, “Biarkan saja gigi itu tetap di sana.” Tentu saja, untuk keperluan kemo, Danny dengan sukarela mencabutnya untuk saya.
Jadi, saya duduk di kursi tindakan gigi, bertanya pada diri sendiri, setelah menjalani penderitaan akibat efek samping radiasi, dan sekarang harus melewati pembedahan gigi geraham bungsu. Seolah-olah penderitaan yang saya alami masih belum cukup! Maka saya bertanya kepada Danny, “Eh, saudara, apakah ada jalan lain? Bisakah saya tidak dibedah?” Dia berkata, “Ya, kamu bisa berdoa.”
Saya berkata, “Apa ruginya? Ok, doalah!” Jadi kami berdoa. Dan saya menjalani pemeriksaan foto Rontgen setelah berdoa. Semuanya telah dipersiapkan di sana, semua peralatan dan hal-hal yang diperlukan bagi pembedahan. Dan, lihatlah, foto Rontgen menunjukkan bahwa tidak ada gigi geraham bungsu di rahang bawah. Saya tahu bahwa kebanyakan orang memiliki sekaligus 4 gigi geraham bungsu (2 di rahang atas – kanan kiri, dan 2 di rahang bawah – kanan kiri), atau mungkin ada orang yang tidak memiliki sama sekali, tetapi kehilangan 1 atau 2 geraham bungsu, seperti yang saya ketahui – saya tidak pasti, tetapi sepengetahuan saya, itu sangat jarang terjadi.
Tetapi saya masih berujar, “Ah, saya tidak peduli hal itu.” Bagi saya, asalkan saya tidak perlu mencabut gigi, saya sudah senang. Pada saat itu, saya masih tidak berkemauan berdoa. Mungkin itu hanya kebetulan – apapun itu.
Selanjutnya, saya menemui dokter onkologis (yang menangani tumor) saya menanyakan dia, “Berapa lama waktu hidup yang masih tersisa bagi saya?” Dia mengatakan, pasti tidak lebih dari 6 bulan. Saya berkata, “Bahkan jika saya menjalani kemoterapi?” Paling lama 3-4 bulan, dia mengatakan. Saya tidak mengerti. Hal itu sulit saya terima. Sekalipun saya menjalani radioterapi, saya masih berjuang tiap harinya, terutama saat bangun tidur, saya masih berharap bahwa apa yang saya alami hanyalah mimpi buruk. Namun setiap kali bangun tidur, penyakit itu masih saya alami.
Saat saya berjuang, hari demi hari, saya merasa depresi, yang adalah ciri khas sebuah penyangkalan, depresi terhadap ini dan itu yang Anda jalani. Tetapi, saya tidak tahu mengapa, khususnya pada hari itu, hari ketika saya harus menemui onkologis saya. Sekitar jam 2 siang, tiba-tiba saya merasakan ledakan damai, ketenangan, dan sedikit perasaan bahagia. Perasaan itu begitu saja memenuhi saya. Tanpa alasan yang jelas, hal itu terjadi sekitar jam 2 siang, saat saya mempersiapkan diri untuk menemui onkologis saya. Begitu meluapnya perasaan itu sehingga saya beritahu semua teman saya, “Saudara-saudaraku, saya mendadak merasa sangat bahagia! Saya tidak tahu mengapa, perasaan itu datang begitu saja!”
Hanya berselang beberapa hari atau minggu kemudian, Danny memberitahu saya bahwa dia berpuasa selama 2 hari bagi saya, dia tawar menawar dengan Allah dan berpuasa selama 2 hari. Dia mengakhiri puasanya pada jam yang sama, sekitar jam 2 siang. Itulah sebabnya ledakan sensasi itu datang pada saya tanpa alasan yang masuk akal. Saya tidak tahu dia berpuasa untuk saya. Dan saat dia mengakhiri puasanya, saya merasakan sensasi itu!
Kejadian demi kejadian menjadi menjadi sulit untuk dikatakan kebetulan. Saya mulai menerima kisah itu, tetapi masih belum bisa mempercayai sepenuhnya. Hari-hari berlalu, saya menyelesaikan radioterapi selama lebih dari 2 minggu. Mulai bersiap untuk kemoterapi, maka mereka membiarkan saya untuk beristirahat beberapa hari.
Angka kematian untuk kanker paru sangatlah tinggi. Jika Anda menggabungkan kasus kematian dari kanker payudara, kanker usus besar dan kanker prostat (jenis kanker yang menduduki ranking teratas di Singapura untuk pria dan wanita), maka jumlah kasus kematian ketiga jenis kanker itu masih tidak dapat menyangingi jumlah kematian kanker paru. Ini akan dengan mudah Anda pahami, karena Anda dapat membuang prostat, usus besar dan payudara, namun Anda tidak dapat membuang paru-paru Anda.
Namun ada 10% pasien kanker paru yang karena beberapa alasan, keganasan kankernya melunak, karena mereka mengalami mutasi (pengubahan) tertentu; para dokter menyebutnya sebagai mutasi EGFR. Dan kasus seperti ini 90% dari kasus mutasi dialami oleh perempuan Asia yang seumur hidup tidak pernah merokok. Bandingkan dengan kondisi saya: 1. Saya adalah seorang pria; 2. Saya adalah perokok sosial. Saya merokok sekali sehari setelah makan malam, merokok di akhir pekan, dan ketika teman saya menawari. Saya sebenarnya seorang perokok ringan, bukan sekedar perokok sosial. Dokter onkologis saya pun tidak melihat peluang bahwa saya akan mengalami mutasi ini.
Peluang untuk mengalami mutasi paling-paling hanya 3-4%. Itu sebabnya, saya diprioritaskan untuk mendapatkan kemoterapi. Namun melalui banyaknya doa dari teman-teman seperti Danny, bahkan dari orang-orang yang saya sendiri tidak kenal, saya mendapati saat penantian menjalani kemo, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa saya EGFR positif. Saya merasa, “Wah, kabar baik!” Karena saya tidak perlu lagi kemo saat itu. Saya cukup minum tablet untuk menekan pertumbuhan penyakit ini.

SESUDAH DAN SEBELUM
          Sebelumnya saya ingin menunjukkan hasil CT scan paru-paru saya sebelum pengobatan. Setiap bintik itu adalah sebuah tumor. Anda dapat melihat semua metastasis (penyebaran kanker) di sana. Ini hanyalah gambar 1 sisi paru. Sesungguhnya, saya memilikinya di kedua paru-paru saya sejumlah puluhan ribu tumor. Oleh karenanya, onkologis memberitahu saya bahwa sekalipun menjalani kemo hanya bertahan hidup paling lama 3-4 bulan.
Namun karena mutasi ini, mereka memberi saya hanya tablet minum. Ini terjadi setelah 2 bulan pengobatan dengan tablet minum. Seperti yang ada lihat di sini; ini adalah yang Allah dapat lakukan dan inilah sebabnya saya masih ada kesempatan sekarang untuk berbagi cerita dengan Anda. Seperti yang Anda lihat, perbedaan antara sebelum dan sesudah pengobatan.
Atas fakta itu, saya berkata, “Baiklah, itulah yang diharapkan, bukan? Obatnya bekerja dengan baik.” Saya masih saja tidak mempercayai peristiwa itu. Baiklah, orang-orang berdoa bagi saya dan penanda tumor mulai menurun; 90% tumor telah tersapu bersih, dan penanda tumor turun sampai lebih dari 90% pada bulan-bulan selanjutnya.
Namun tetap saja, seperti yang Anda tahu, begitu Anda memiliki pengetahuan medis, Anda akan mengetahui statistik. Satu tahun harapan hidup, dua tahun harapan hidup; memiliki semua pengetahuan ini bukan hal baik. Karena sekalipun Anda hidup dengan semua pengetahuan yang berkaitan dengan kanker, sel-sel kanker tetaplah tidak stabil, mereka akan bermutasi (berubah). Mereka akan menang dan menjadi kebal terhadap obat-obatan, dan akhirnya Anda akan kehabisan cara pengobatan.
Jadi hidup dengan pengetahuan ini justru menjadi pergumulan mental, siksaan mental yang luar biasa. Kanker tidak saja merupakan pergumulan fisik, tetapi juga siksaan mental. Bagaimana Anda dapat hidup tanpa harapan? Bagaimana Anda dapat hidup tanpa rencana untuk beberapa tahun yang akan datang. Onkologis memberitahu bahwa Anda harus menanggungnya 1-2 bulan. Jadi ada banyak pergumulan yang harus saya lalui: Maret, kemudian April. April adalah titik terendah saya, depresi yang dalam, berjuang, sekalipun saya mengalami penyembuhan.


MENERIMA DAN DAMAI
Pada suatu hari, saya sedang berbaring di ranjang, bergumul pada siang hari, bertanya kepada Allah, “Mengapa? Mengapa saya harus melewati penderitaan ini? Mengapa saya harus menanggung kesulitan ini, perjuangan ini? Mengapa saya? Sewaktu saya tertidur, dalam keadaan bermimpi, sebuah penglihatan datang, yang mengatakan Ibrani 12:7-8.
          Saya mengingatkan Anda, pada waktu itu, saya tidak membaca Alkitab. Saya tidak memiliki gambaran apa itu Ibrani, saya bahkan tidak mengetahui ada berapa pasal di sana. Sama sekali tidak memiliki gambaran. Tetapi penglihatan itu mengatakan Ibrani 12:7-8, sangat khusus. Saya tidak terlalu memikirkan hal itu. Saya melanjutkan tidur. Kemudian, ketika saya bangun, saya mengatakan, “Apa ruginya? Saya akan memeriksanyalah!” Danny telah membelikan saya sebuah Alkitab; masih cukup baru. Saya mengatakan pada diri sendiri, “Tidak apa, coba saja.” Jadi saya menyusuri Perjanjian Lama. Ibrani terdengar seperti sesuatu yang kuno, jadi harusnya ada di Perjanjian Lama, bukankah begitu? Maka saya mencarinya di seluruh Perjanjian Lama. Tidak ada Ibrani di sana. Saya sangat kecewa.
Kemudian saya berkata, “Mungkin Perjanjian Baru, ayo kita lihat!” Wah – Perjajian Baru mempunyai Ibrani!! Dalam Ibrani 12:7-8 dikatakan, “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak.” Saya berkata,”Wah!! Dari mana datangnya!” Seluruh tubuh saya merinding. Saya berkata,”Apakah ini benar?” Maksud saya, bagaimana peluang seseorang yang belum pernah membaca Alkitab lalu mendapatkan penglihatan di sebuah pasal dengan sebuah ayat tertentu, yang bisa menjawab langsung pertanyaan saya? Saya pikir Allah langsung memanggil saya ketika saya sedang tertidur, bergumul dengan penyakit itu, dan bertanya kepada Allah, “Mengapa saya harus menderita? Mengapa saya harus menderita ini?” Dan Allah berkata, “kamu harus menanggung ganjaran karena Allah memperlakukan kamu seperti anak.” 
Pada titik itu, peluang agar peristiwa itu bisa terjadi bahkan lebih kecil dari pada EGFR saya menjadi positif. Tidak mungkin terdapat dalih lain. Ada jutaan ayat di dalam Alkitab, bagaimana mungkin saya bisa kebetulan mengalami hal itu? Maka, pada saat itulah, saya takluk. Saya berkata, “ENGKAU MENANG! ENGKAU MENANG!!!”
Baiklah, saya diyakinkan. Dan pada hari-hari selanjutnya, saya mulai percaya kepada Allah saya. Dan terakhir kalinya saya mendengar suara batin itu adalah pada akhir bulan April. Dan suara batin itu, pada siang hari ketika saya tidur (kali ini saya tidak sedang bergumul, hanya akan tidur). Dalam keadaan bermimpi, saya mendengar Dia berkata, “Bantulah mereka yang dalam kesusahan.” Nampak seperti sebuah perintah, dari pada pernyataan. Itulah yang menyebabkan saya melakukan perjalanan, menolong orang lain yang dalam masalah. Dan saya menyadari bahwa kesulitan bukan sekedar kemiskinan. Faktanya, saya melihat banyak orang miskin mungkin lebih berbahagia dari pada kebanyakan kita di sini. Mereka puas dengan apapun yang mereka miliki, mereka mungkin cukup senang.
Kesulitan dapat dialami oleh orang kaya; kesulitan dapat berarti secara fisik, mental, hubungan sosial, dll. Dan setelah beberapa bulan berlalu, saya baru menyadari apakah sukacita sejati. Di masa lalu, saya menggantikan sukacita sejati dengan mengejar kekayaan. Saya berpikir sukacita sejati adalah pengejaran kekayaan. Mengapa? Marilah saya mengarahkan pandangan Anda ke sini. Di ranjang pesakitan saya, saya tidak menjumpai sukacita apapun dalam bentuk apapun, saya memiliki – Ferrari, memikirkan tanah yang akan saya beli untuk didirikan villa, dlsb, mempunyai bisnis yang sukses. Semuanya membawa saya ke titik nyaman NOL, sukacita NOL, tidak satu pun. Apakah Anda berpikir bahwa saya dapat bersandar kepada potongan logam (Ferrari) yang akan memberikan sukacita sejati? Nah, itu tidak akan terjadi.
Sukacita sejati berasal dari hubungan dengan orang lain. Dan seringkali pada masa laluku hal itu dikaitkan dengan kebanggaan jangka pendek. Bila Anda mengejar kekayaan, Tahun Baru Imlek adalah saat terbaik untuk mewujudkannya. Menyetir Ferrari saya, memamerkannya kepada para kerabat, memamerkan kepada teman-teman saya, berkeliling dengannya, lalu Anda mengira bahwa itulah sukacita sejati? Anda benar-benar menyangka bahwa mereka yang kagum kepada Ferrari Anda, akan berbagi sukacita dengan Anda? Kerabat Anda berkata “wow”, apakah mereka berbagi sukacita ini dengan Anda? Sesungguhnya, apa yang Anda lakukan hanyalah membangkitkan iri hati, kecemburuan dan bahkan kebencian. Mereka tidak berbagi sukacita dengan Anda. Apa yang saya miliki sebagai kebanggaan jangka pendek – yang wow keren, sesungguhnya berarti “saya memiliki sesuatu yang tidak kalian miliki!” Saya mengira itulah sukacita! Jadi apa yang kita miliki sesungguhnya adalah di atas ketidakmampuan (penderitaan) orang lain. Itu bukanlah sukacita yang sejati. Dan saya tidak menjumpai sukacita apapun di atas ranjang pesakitan saya, memikirkan Ferrari saya – bersandar kepadanya, sayang kepadanya?
Sukacita sejati saya temukan berasal dari hubungan dengan orang lain. Lebih dari beberapa bulan terakhir ini saya sangat sedih. Tetapi melalui hubungan dengan orang yang saya kasihi, teman-teman saya, saudara-saudari saya di dalam Kristus, saya dapat terdorong dan bangkit. Dapat berbagi penderitaan dan kebahagiaan Anda – itulah sukacita sejati. Tahukah Anda apa yang membuat Anda tersenyum? Sukacita sejati berasal dari menolong sesamamu dalam kesusahan, dan karena saya telah melewati hal ini, saya mengetahui apa yang diperlukan ketika mengalami kesulitan.
Faktanya, beberapa penderita kanker memberi tahu saya, berulang kali orang-orang mendatangi mereka dan mengatakan, “Berpikirlah positif. Berpikirlah positif.” Ya, itu benar. Ayo pakailah sepatu saya (alamilah situasi saya) dan cobalah berpikir positif! Anda tidak tahu apa yang Anda katakan! Namun sebagai sesama penderita kanker, saya memiliki izin (hak). Jadi, saya pergi keluar untuk bertemu dengan sesama penderita kanker, berbagi dengan mereka, menyemangati mereka. Saya tahu, karena saya telah mengalaminya, dan lebih mudah bagi saya untuk berbicara kepada mereka.
Dan yang terpenting, saya merasa bahwa sukacita sejati berasal dari pengenalan akan Allah. Maksud saya - bukan mengenal Allah sekedar dari membaca Alkitab – tetapi pengenalan terhadap Allah secara pribadi; memiliki hubungan yang intim dengan Allah. Saya merasa itulah yang terpenting. Itulah yang telah saya pelajari.
Jadi saya menyimpulkan, semakin dini kita mengenali prioritas dalam hidup kita, semakin baik keadaan kita. Jangan seperti saya – saya tidak memiliki jalan lain. Saya harus mengenali prioritas itu melalui jalan yang berat. Saya harus kembali kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya atas kesempatan ini karena sebenarnya saya telah mengalami 3 kecelakaan besar di masa lalu – tabrakan mobil. Anda tahu – kecelakaan mobil balap – saya selalu ngebut, tetapi entah bagaimana saya selalu luput dan tetap hidup, bahkan dengan mobil yang hampir terbalik sama sekali, dan saya mungkin saja tidak punya kesempatan untuk lolos dari maut. Tetapi sayang, saya masih tidak tahu ke mana seharusnya saya pergi! Walaupun saya telah dibaptis, hal itu hanyalah sebuah pertunjukan, tetapi faktanya hal ini terjadi, supaya saya ada kesempatan berbalik kepada Allah.

Beberapa hal yang saya telah pelajari:
1.    Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu – ini sangatlah penting.
2.    Kasihilah dan layanilah orang lain, tidak hanya melayani diri sendiri.

Tidak salah dengan kekayaan dan kesuksesan. Saya rasa hal itu mutlak benar, karena Allah memberkati. Banyak orang diberkati dengan kesuksesan, tetapi masalahnya, saya rasa banyak di antara kita tidak dapat mengendalikan hal itu. Semakin banyak yang kita miliki, semakin besarlah keinginan kita. Saya telah melewati hal itu, semakin dalam lubang yang kita buat, semakin kita terhisap ke dalamnya, begitu mudahnya kita menyembah pada kesuksesan dan kehilangan fokus. Tidak menyembah Allah, sebaliknya menyembah kesuksesan. Itulah insting manusia. Sangatlah sulit keluar dari hal itu.
Kita semua orang berprofesi, dan kita akan menjalankan praktek pribadi, kita mulai membangun kesuksesan – tanpa batas. Jadi pendapat saya, ketika Anda mulai membangun kesuksesan dan ketika kesempatan datang, tolong ingatlah bahwa semua ini bukanlah milik kita. Kita tidak sungguh-sungguh memilikinya atau mempunyai hak atas kekayaan ini. Semua itu adalah pemberian Allah kepada kita. Ingatlah bahwa lebih penting meluaskan Kerajaan-Nya dari pada meluaskan diri kita.
Lagipula, saya berpendapat bahwa saya telah melaluinya dan saya mengetahui bahwa kekayaan tanpa Allah itu hampa. Sebagai kaum profesi dan bagi Anda semuanya yang sedang membangun kesuksesan Anda setahap demi setahap, lebih penting Anda mengisi kesuksesan Anda dengan kekayaan Allah.
Saya rasa saya sudahi dulu. Senang bisa berbagi. Terima kasih.

Comment :  Thanx buat Ce Agustine yg udah terjemahin ke bahasa Indonesia.

"Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha 
menjaring angin....Pengkhotbah 1:14"