|
Dr Richard
Teo Keng Siang
|
Richard ingin berbagi kisahnya dengan Anda. Kita
melakukan hal ini untuk melanjutkan karyanya. Tolong bacalah dan berikan
kepada seseorang untuk mendapatkan manfaat dari kisahnya. Jika Anda inginkan
catatan ini, tolong beritahukan kepada keluarganya atau sahabatnya, dan kami
akan menyediakan baik rekaman audio atau transkripnya. Terima kasih dan
semoga Allah memberkati Anda dengan berlimpah. Di bawah ini adalah transkrip
percakapan Dr. Richard Teo, yang adalah milioner 40 tahun, ahli bedah
kosmetik yang menderita kanker paru stadium 4, di Persekutuan Dokter Gigi Kristen, pada
tanggal 24 November 2011, 8 bulan setelah diagnosisnya.
|
LATAR
BELAKANG
Hai, selamat pagi. Suara saya
agak serak karena kemoterapi (pengobatan bagi kanker), jadi bersabarlah untuk
saya. Saya akan memperkenalkan diri saya. Nama saya Richard. Saya adalah kawan
Danny, yang mengundang saya ke sini.
Saya mulai dengan mengatakan
bahwa saya adalah produk khas masyarakat hari ini. Sebelumnya, saya telah membicarakan
bagaimana media masa mempengaruhi kita, dst. Maka, saya adalah produk khas dari
apa yang digambarkan oleh media masa. Sejak muda, saya telah berada di bawah
pengaruh dan kesan bahwa menjadi bahagia berarti menjadi orang sukses. Dan
menjadi sukses itu berarti menjadi kaya. Jadi saya mengarahkan hidup saya pada
semboyan ini.
Berasal dari latar belakang
keluarga menengah ke bawah, dulunya, saya sangat senang bersaing, baik di
bidang olahraga, pelajaran, dan kepemimpinan. Saya meninginkan semuanya. Saya
ada di sana, melakukan semua itu. Tetapi pada ujungnya, segalanya tetap berkaitan
dengan uang.
Jadi pada
penghujung hidup saya, saya adalah murid di bagian oftalmologi (spesialis
mata), tetapi saya tidak sabar, karena saya memiliki teman-teman yang telah
menjalankan praktek pribadi untuk menghasilkan uang. (Pada masa itu, spesialis mata merupakan jurusan yang paling diminati).
Sedangkan saya sendiri, terperangkap dalam pelatihan. Maka, saya berkata,
“Cukup, ini terlalu lama.” Saat itu, ada bidang medis jurusan bedah kosmetik.
Saya yakin Anda menyadari bahwa, bagian kosmetik mencapai puncaknya pada
beberapa akhir tahun belakangan ini, dan saya melihat banyaknya uang di sana.
Begitu banyaknya uang, sehingga saya berkata, “Lupakan spesialis mata, saya
akan menjalani bagian kosmetik.” Begitulah akhirnya apa yang saya lakukan.
Kenyataannya, di lingkungan kita,
tidak ada pahlawan dihasilkan dari sekedar praktek dokter umum. Tidak ada. Para
pahlawan berasal dari selebritis kaya, politisi kaya, orang kaya, dan orang
terkenal. Jadi, saya ingin menjadi salah satu dari mereka. Saya langsung
menyelami bidang medis kosmetik. Dulu orang tidak rela membayar praktek dokter
umum saya. Apapun yang melebihi biaya $30, akan menyebabkan mereka mengeluh,
“Wah, dokter ini benar-benar mahal.” Mereka ribut dan tidak senang. Tetapi
orang yang sama akan dengan sukarela membayar $10,000 bagi sedot lemak. Maka,
saya berkata, “Baiklah, saya akan berhenti menyembuhkan orang sakit, saya akan
menjadi dokter kosmetik; seorang dokter terlatih di bidang kosmetik.”
Itulah yang saya kerjakan – sedot
lemak, memperbesar buah dada, bedah kelopak mata, Anda sebut apa yang Anda
inginkan, kita akan mengerjakannya. Itu mendatangkan sangat banyak uang. Klinik
saya ketika kami memulainya, pasien harus mengantri 1 minggu; 1 bulan; menjadi
2 bulan; menjadi 3 bulan. Begitu banyaknya permintaan sehingga orang-orang rela
mengantri hingga tiba saatnya mereka mendapat penanganan kecantikan. Para
wanita yang hampa – dengan penghidupan yang nyaman.
Maka, klinik saya berkembang.
Saya sangat diduduki oleh situasi ini, dari 1 dokter, saya mempekerjakan 2,
lalu 3, kemudian 4 dokter, dst. Tidak pernah puas. Saya ingin lebih dan lebih
dan lebih. Begitu gencarnya, hingga kami mendirikan toko di Indonesia untuk
mengumpan semua nyonya Indonesia. Kami membangun toko, merekrut orang-orang di
sana, untuk mendapatkan lebih banyak pasien Indonesia datang.
Jadi, segalanya berjalan dengan
baik. Saya di sana, waktunya telah tiba. Kira-kira di bulan Pebruari tahun
lalu, saya berkata, “OK, saya telah memiliki banyak uang berlebih, ini waktunya
untuk mendapatkan Ferrari pertama saya. Jadi, saya telah siap untuk menyisihkan
uang bagi keperluan itu. “OK! Ferrari pertama saya datang!” Saya mencari tanah,
untuk berbagi bersama beberapa teman saya. Saya memilki seorang teman yang
bekerja di bank, yang berpendapatan $5 juta setahun. Maka, saya berpikir,
“Kemari, marilah kita bersama-sama. Marilah membeli beberapa tanah dan
mendirikan rumah-rumah kita.”
Saya berada di puncak, siap untuk
menikmati. Pada waktu bersamaan, teman saya Danny mengalami kebangunan (rohani). Mereka kembali ke gereja, juga beberapa
sahabat saya. Mereka menganjuri saya, “Richard, mari, bergabung bersama kita,
kembalilah ke gereja.”
Saya telah menjadi orang Kristen selama 20 tahun; saya telah
dibaptis 20 tahun yang lalu, tetapi hal itu terjadi karena sedang tren menjadi
orang Kristen. Semua teman saya menjadi orang Kristen. Itu keren! Saya mau
dibaptis, sehingga ketika mengisi formulir, saya bisa menuliskan “Kristen” –
tampaknya bagus. Kenyataannya, saya tidak pernah memiliki Alkitab; saya tidak
mengetahui apa yang dikatakan Alkitab.
Saya
pergi ke gereja sejangka waktu, tetapi kemudian, saya merasa capek. Saya
berkata pada diri sendiri, inilah waktunya untuk pergi bersenang-senang, stop
pergi ke gereja. Saya mempunyai banyak hal untuk dikejar di NUS (National University of Singapore) –
perempuan, pelajaran, olahraga, dll. Lagipula, saya telah mencapai semua hal
ini tanpa Allah, jadi siapa yang memerlukan Allah? Diri saya sendiri dapat
meraih apapun yang saya inginkan.
Dalam
keangkuhan, saya memberitahu mereka, “Tahukah kamu? Pergilah, beritahu pendetamu untuk mengubah waktu kotbah menjadi
jam 2 siang. Saya akan mempertimbangkan untuk datang ke gereja.” Sangat
sombong! Dan saya mengatakan 1 pernyataan sebagai tambahan – sampai hari ini,
saya tidak mengetahui..., saya menyesal telah mengatakan hal itu – saya
memberitahu Danny dan teman-teman saya, “Jika Allah memang menginginkan saya
kembali ke gereja, Dia akan memberikan saya tanda.” Lihatlah, 3 minggu
kemudian, saya kembali ke gereja.
DIAGNOSIS
Sekitar bulan Maret 2011, saat langit biru – seperti biasanya
saya melakukan lari berkeliling - karena saya adalah pengemar olahraga dan saya
selalu pergi ke tempat olahraga – lari, berenang 6 hari seminggu. Saya
merasakan nyeri di bagian punggung. Itu saja yang saya rasakan, tetapi nyeri
itu menetap. Oleh karenanya, saya berencana untuk menjalani pemeriksaan MRI guna
menyingkirkan kemungkinan ada “urat kejepit”. Satu hari sebelum saya melakukan pemindaian
MRI itu, saya masih di tempat olahraga, mengangkat beban berat, melakukan
latihan angkat berat. Namun keesokan harinya saat laporan hasil pemindaian MRI
keluar, saya menemukan bahwa separuh dari tulang belakang saya bergeser. Saya
berkata, “Hah, apaan itu?”
Kami menerima hasil PET scan sehari sesudahnya, dan mereka
mendiagnosis, saya terkena kanker paru tahap akhir, stadium 4B. Kanker itu
telah menyebar ke otak, separuh tulang belakang, semua bagian paru-paru saya
dipenuhi tumor, juga organ hati, adrenal...
Saya berkata, “Tidak mungkin, saya baru saja di tempat
olahraga kemarin malam, apa yang terjadi?” Saya yakin kalian mengetahui
bagaimana rasanya itu – walaupun saya
tidak yakin jika kalian mengetahui bagaimana rasanya. Tidak lama setelah saya
berada di puncak, besoknya, kabar ini datang dan saya benar-benar hancur. Dunia
saya begitu saja terjungkir.
Saya tidak bisa menerimanya. Kerabat saya di kedua belah
pihak, pihak ibu dan ayah saya, ada 100an orang, dan tidak satupun yang
memiliki kanker. Bagi saya, di dalam benak saya, saya memiliki gen (sifat
keturunan) yang bagus, saya tidak semestinya mempunyai penyakit ini! Beberapa
kerabat saya adalah perokok berat. Namun kenapa saya yang mempunyai kanker
paru? Saya dalam masa penyangkalan.
PERHITUNGAN DENGAN ALLAH
Keesokan harinya, saya masih dalam tahap penyangkalan, tetapi
tidak dapat menerima apa yang terjadi. Saya berada di ruang operasi di rumah
sakit, untuk menjalani biopsi (pengambilan sedikit jaringan tumor- biasanya bagi penetapan jenis kanker dan
pengobatan yang spesifik untuk jenis itu). Saat telah selesai dilakukan
biopsi dan masih berbaring di ruang operasi. Para perawat dan dokter telah
pergi; mereka memberitahu saya supaya saya menunggu 15 menit untuk selanjutnya
dilakukan pemeriksaan Rontgen guna memastikan tidak adanya “pneumothoraks”
(komplikasi akibat kanker paru – di mana
selaput paru berisi udara sehingga dapat menekan paru-paru; paru-paru tidak
dapat mengembang dan mengempis).
Pada waktu berbaring di meja operasi, menerawang ke
langit-langit ruang operasi yang dingin dan sunyi. Tiba-tiba saya mendengar
suara di batin saya; suara itu tidak berasal dari luar, namun dari dalam. Suara
batin yang lembut itu tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Dan suara itu
secara khusus berkata, “Ini terjadi pada dirimu, pada masa kejayaanmu, karena
hanya itulah satu-satunya jalan bagimu untuk memahami.”
Saya berkata, “Hah, dari mana itu berasal?” Anda tahu, ketika
Anda berbicara kepada diri sendiri, Anda akan berkata, “OK, kapan SAYA harus
meninggalkan tempat ini? Di mana SAYA akan makan malam setelah ini?” Anda
berbicara dari sudut pandang orang pertama (kata
ganti orang pertama – SAYA). Anda tidak akan berkata, “Ke mana KAMU pergi
setelah ini?” Namun sebaliknya, suara itu berbicara sebagai orang ketiga. Suara
itu berkata, “Ini terjadi pada diriMU, pada masa kejayaanMU, karena hanya
itulah satu-satunya jalan bagiMU untuk memahami.” Saat itu juga, saya penuh
emosi dan saya remuk dan menangis, sendirian di sana. Dan saya mengetahui
kemudian, setahap demi setahap, tentang apa maksudnya “untuk memahami” dan
mengapa “inilah satu-satunya jalan”.
Karena saya sangat bangga diri, di sepanjang hidup saya, saya
tidak memerlukan orang lain. Saya dianugerahi kepandaian yang membuat saya
dapat melakukan banyak hal, mengapa saya perlu orang lain? Saya puas dengan
diri saya sendiri, sehingga tidak ada jalan bagi saya untuk kembali kepada
Allah.
Seandainya saya terdiagnosa pada stadium 1 atau 2, saya akan
sangat sibuk mencari dokter bedah bagian dada yang terbaik, memotong sebagian
dari paru-paru (“lobektomi”), melakukan kemoterapi pencegahan... Kesempatan
untuk disembuhkan sangatlah tinggi. Siapa yang memerlukan Allah. Namun stadium
yang saya miliki 4B. Tidak seorang pun yang dapat membantu, hanya Allah yang
bisa.
Serangkaian kejadian saya alami setelah peristiwa itu. Saya
tidak segera berpaling setelah itu. Tidak karena suara batin itu, lantas saya
menjadi orang percaya, menjadi pendoa, dsb. Tidak demikian. Bagi saya, suara
itu mungkin hanyalah sebuah suara; atau mungkin saya sedang berbicara pada diri
sendiri. Saya tidak mudah percaya oleh kejadian itu.
Keesokan harinya, saya sedang mempersiapkan diri untuk
kemoterapi. Saya akan mulai diterapi dengan sinar radiasi pada seluruh bagian
otak saya; memakan waktu sekitar 2-3 minggu. Dalam tenggang waktu itu mereka
memberikan kepada saya kemoterapi, suplemen, dll. Salah satu obat yang dipakai
untuk kemo bernama Zometa. Zometa – dipakai untuk menguatkan tulang; begitu
tulang belakang dibersihkan dari sel-sel kanker, tulang itu menjadi berlubang,
jadi saya membutuhkan Zometa untuk menguatkan tulang dan mencegah patah tulang
akibat tekanan.
Namun salah satu efek samping Zometa adalah “osteonekrosis”
(sel-sel tulang menjadi mati) pada rahang, dan oleh karenanya gigi geraham
bungsu saya harus dicabut. Beberapa tahun lalu, gigi geraham bungsu di rahang
bagian atas saya dicabut, karena menyulitkan saya. Geraham bungsu di rahang
bawah tidak bermasalah, sehingga waktu itu saya berkata, “Biarkan saja gigi itu
tetap di sana.” Tentu saja, untuk keperluan kemo, Danny dengan sukarela
mencabutnya untuk saya.
Jadi, saya duduk di kursi tindakan gigi, bertanya pada diri
sendiri, setelah menjalani penderitaan akibat efek samping radiasi, dan
sekarang harus melewati pembedahan gigi geraham bungsu. Seolah-olah penderitaan
yang saya alami masih belum cukup! Maka saya bertanya kepada Danny, “Eh,
saudara, apakah ada jalan lain? Bisakah saya tidak dibedah?” Dia berkata, “Ya,
kamu bisa berdoa.”
Saya berkata, “Apa ruginya? Ok, doalah!” Jadi kami berdoa.
Dan saya menjalani pemeriksaan foto Rontgen setelah berdoa. Semuanya telah
dipersiapkan di sana, semua peralatan dan hal-hal yang diperlukan bagi
pembedahan. Dan, lihatlah, foto Rontgen menunjukkan bahwa tidak ada gigi
geraham bungsu di rahang bawah. Saya tahu bahwa kebanyakan orang memiliki sekaligus 4 gigi geraham bungsu (2 di
rahang atas – kanan kiri, dan 2 di rahang bawah – kanan kiri), atau mungkin
ada orang yang tidak memiliki sama
sekali, tetapi kehilangan 1 atau 2 geraham bungsu, seperti yang saya
ketahui – saya tidak pasti, tetapi sepengetahuan saya, itu sangat jarang
terjadi.
Tetapi saya masih berujar, “Ah, saya tidak peduli hal itu.”
Bagi saya, asalkan saya tidak perlu mencabut gigi, saya sudah senang. Pada saat
itu, saya masih tidak berkemauan berdoa. Mungkin itu hanya kebetulan – apapun
itu.
Selanjutnya, saya menemui dokter onkologis (yang menangani tumor) saya menanyakan
dia, “Berapa lama waktu hidup yang masih tersisa bagi saya?” Dia mengatakan,
pasti tidak lebih dari 6 bulan. Saya berkata, “Bahkan jika saya menjalani
kemoterapi?” Paling lama 3-4 bulan, dia mengatakan. Saya tidak mengerti. Hal
itu sulit saya terima. Sekalipun saya menjalani radioterapi, saya masih
berjuang tiap harinya, terutama saat bangun tidur, saya masih berharap bahwa
apa yang saya alami hanyalah mimpi buruk. Namun setiap kali bangun tidur,
penyakit itu masih saya alami.
Saat saya berjuang, hari demi hari, saya merasa depresi, yang
adalah ciri khas sebuah penyangkalan, depresi terhadap ini dan itu yang Anda
jalani. Tetapi, saya tidak tahu mengapa, khususnya pada hari itu, hari ketika
saya harus menemui onkologis saya. Sekitar jam 2 siang, tiba-tiba saya
merasakan ledakan damai, ketenangan, dan sedikit perasaan bahagia. Perasaan itu
begitu saja memenuhi saya. Tanpa alasan yang jelas, hal itu terjadi sekitar jam
2 siang, saat saya mempersiapkan diri untuk menemui onkologis saya. Begitu
meluapnya perasaan itu sehingga saya beritahu semua teman saya,
“Saudara-saudaraku, saya mendadak merasa sangat bahagia! Saya tidak tahu
mengapa, perasaan itu datang begitu saja!”
Hanya berselang beberapa hari atau minggu kemudian, Danny
memberitahu saya bahwa dia berpuasa selama 2 hari bagi saya, dia tawar menawar
dengan Allah dan berpuasa selama 2 hari. Dia mengakhiri puasanya pada jam yang
sama, sekitar jam 2 siang. Itulah sebabnya ledakan sensasi itu datang pada saya
tanpa alasan yang masuk akal. Saya tidak tahu dia berpuasa untuk saya. Dan saat
dia mengakhiri puasanya, saya merasakan sensasi itu!
Kejadian demi kejadian menjadi menjadi sulit untuk dikatakan
kebetulan. Saya mulai menerima kisah itu, tetapi masih belum bisa mempercayai
sepenuhnya. Hari-hari berlalu, saya menyelesaikan radioterapi selama lebih dari
2 minggu. Mulai bersiap untuk kemoterapi, maka mereka membiarkan saya untuk
beristirahat beberapa hari.
Angka kematian untuk kanker paru sangatlah tinggi. Jika Anda
menggabungkan kasus kematian dari kanker payudara, kanker usus besar dan kanker
prostat (jenis kanker yang menduduki ranking teratas di Singapura untuk pria
dan wanita), maka jumlah kasus kematian ketiga jenis kanker itu masih tidak
dapat menyangingi jumlah kematian kanker paru. Ini akan dengan mudah Anda
pahami, karena Anda dapat membuang prostat, usus besar dan payudara, namun Anda
tidak dapat membuang paru-paru Anda.
Namun ada 10% pasien kanker paru yang karena beberapa alasan,
keganasan kankernya melunak, karena mereka mengalami mutasi (pengubahan) tertentu; para dokter
menyebutnya sebagai mutasi EGFR. Dan kasus seperti ini 90% dari kasus mutasi
dialami oleh perempuan Asia yang seumur hidup tidak pernah merokok. Bandingkan
dengan kondisi saya: 1. Saya adalah seorang pria; 2. Saya adalah perokok
sosial. Saya merokok sekali sehari setelah makan malam, merokok di akhir pekan,
dan ketika teman saya menawari. Saya sebenarnya seorang perokok ringan, bukan
sekedar perokok sosial. Dokter onkologis saya pun tidak melihat peluang bahwa
saya akan mengalami mutasi ini.
Peluang untuk mengalami mutasi paling-paling hanya 3-4%. Itu
sebabnya, saya diprioritaskan untuk mendapatkan kemoterapi. Namun melalui
banyaknya doa dari teman-teman seperti Danny, bahkan dari orang-orang yang saya
sendiri tidak kenal, saya mendapati saat penantian menjalani kemo, hasil
pemeriksaan menunjukkan bahwa saya EGFR positif. Saya merasa, “Wah, kabar
baik!” Karena saya tidak perlu lagi kemo saat itu. Saya cukup minum tablet
untuk menekan pertumbuhan penyakit ini.
SESUDAH DAN SEBELUM
Sebelumnya saya ingin menunjukkan
hasil CT scan paru-paru saya sebelum pengobatan. Setiap bintik itu adalah
sebuah tumor. Anda dapat melihat semua metastasis (penyebaran kanker) di sana. Ini hanyalah gambar 1 sisi paru.
Sesungguhnya, saya memilikinya di kedua paru-paru saya sejumlah puluhan ribu
tumor. Oleh karenanya, onkologis memberitahu saya bahwa sekalipun menjalani
kemo hanya bertahan hidup paling lama 3-4 bulan.
Namun karena mutasi ini, mereka memberi saya hanya tablet
minum. Ini terjadi setelah 2 bulan pengobatan dengan tablet minum. Seperti yang
ada lihat di sini; ini adalah yang Allah dapat lakukan dan inilah sebabnya saya
masih ada kesempatan sekarang untuk berbagi cerita dengan Anda. Seperti yang
Anda lihat, perbedaan antara sebelum dan sesudah pengobatan.
Atas fakta itu, saya berkata, “Baiklah, itulah yang diharapkan,
bukan? Obatnya bekerja dengan baik.” Saya masih saja tidak mempercayai
peristiwa itu. Baiklah, orang-orang berdoa bagi saya dan penanda tumor mulai
menurun; 90% tumor telah tersapu bersih, dan penanda tumor turun sampai lebih
dari 90% pada bulan-bulan selanjutnya.
Namun tetap saja, seperti yang Anda tahu, begitu Anda
memiliki pengetahuan medis, Anda akan mengetahui statistik. Satu tahun harapan
hidup, dua tahun harapan hidup; memiliki semua pengetahuan ini bukan hal baik.
Karena sekalipun Anda hidup dengan semua pengetahuan yang berkaitan dengan
kanker, sel-sel kanker tetaplah tidak stabil, mereka akan bermutasi (berubah). Mereka akan menang dan menjadi
kebal terhadap obat-obatan, dan akhirnya Anda akan kehabisan cara pengobatan.
Jadi hidup dengan pengetahuan ini justru menjadi pergumulan
mental, siksaan mental yang luar biasa. Kanker tidak saja merupakan pergumulan
fisik, tetapi juga siksaan mental. Bagaimana Anda dapat hidup tanpa harapan?
Bagaimana Anda dapat hidup tanpa rencana untuk beberapa tahun yang akan datang.
Onkologis memberitahu bahwa Anda harus menanggungnya 1-2 bulan. Jadi ada banyak
pergumulan yang harus saya lalui: Maret, kemudian April. April adalah titik
terendah saya, depresi yang dalam, berjuang, sekalipun saya mengalami
penyembuhan.
MENERIMA DAN DAMAI
Pada suatu hari, saya sedang berbaring di ranjang, bergumul
pada siang hari, bertanya kepada Allah, “Mengapa? Mengapa saya harus melewati
penderitaan ini? Mengapa saya harus menanggung kesulitan ini, perjuangan ini?
Mengapa saya? Sewaktu saya tertidur, dalam keadaan bermimpi, sebuah penglihatan
datang, yang mengatakan Ibrani 12:7-8.
Saya mengingatkan Anda, pada waktu
itu, saya tidak membaca Alkitab. Saya tidak memiliki gambaran apa itu Ibrani,
saya bahkan tidak mengetahui ada berapa pasal di sana. Sama sekali tidak
memiliki gambaran. Tetapi penglihatan itu mengatakan Ibrani 12:7-8, sangat
khusus. Saya tidak terlalu memikirkan hal itu. Saya melanjutkan tidur.
Kemudian, ketika saya bangun, saya mengatakan, “Apa ruginya? Saya akan memeriksanyalah!”
Danny telah membelikan saya sebuah Alkitab; masih cukup baru. Saya mengatakan
pada diri sendiri, “Tidak apa, coba saja.” Jadi saya menyusuri Perjanjian Lama.
Ibrani terdengar seperti sesuatu yang kuno, jadi harusnya ada di Perjanjian
Lama, bukankah begitu? Maka saya mencarinya di seluruh Perjanjian Lama. Tidak
ada Ibrani di sana. Saya sangat kecewa.
Kemudian saya berkata, “Mungkin Perjanjian Baru, ayo kita
lihat!” Wah – Perjajian Baru mempunyai Ibrani!! Dalam Ibrani 12:7-8 dikatakan,
“Jika kamu harus menanggung ganjaran;
Allah memperlakukan kamu seperti anak.” Saya berkata,”Wah!! Dari mana
datangnya!” Seluruh tubuh saya merinding. Saya berkata,”Apakah ini benar?”
Maksud saya, bagaimana peluang seseorang yang belum pernah membaca Alkitab lalu
mendapatkan penglihatan di sebuah pasal dengan sebuah ayat tertentu, yang bisa
menjawab langsung pertanyaan saya? Saya pikir Allah langsung memanggil saya
ketika saya sedang tertidur, bergumul dengan penyakit itu, dan bertanya kepada
Allah, “Mengapa saya harus menderita? Mengapa saya harus menderita ini?” Dan
Allah berkata, “kamu harus menanggung ganjaran karena Allah memperlakukan kamu
seperti anak.”
Pada titik itu, peluang agar peristiwa itu bisa terjadi
bahkan lebih kecil dari pada EGFR saya menjadi positif. Tidak mungkin terdapat
dalih lain. Ada jutaan ayat di dalam Alkitab, bagaimana mungkin saya bisa
kebetulan mengalami hal itu? Maka, pada saat itulah, saya takluk. Saya berkata,
“ENGKAU MENANG! ENGKAU MENANG!!!”
Baiklah, saya diyakinkan. Dan pada hari-hari selanjutnya,
saya mulai percaya kepada Allah saya. Dan terakhir kalinya saya mendengar suara
batin itu adalah pada akhir bulan April. Dan suara batin itu, pada siang hari
ketika saya tidur (kali ini saya tidak sedang bergumul, hanya akan tidur).
Dalam keadaan bermimpi, saya mendengar Dia berkata, “Bantulah mereka yang dalam
kesusahan.” Nampak seperti sebuah perintah, dari pada pernyataan. Itulah yang
menyebabkan saya melakukan perjalanan, menolong orang lain yang dalam masalah.
Dan saya menyadari bahwa kesulitan bukan sekedar kemiskinan. Faktanya, saya
melihat banyak orang miskin mungkin lebih berbahagia dari pada kebanyakan kita
di sini. Mereka puas dengan apapun yang mereka miliki, mereka mungkin cukup
senang.
Kesulitan dapat dialami oleh orang kaya; kesulitan dapat
berarti secara fisik, mental, hubungan sosial, dll. Dan setelah beberapa bulan
berlalu, saya baru menyadari apakah sukacita sejati. Di masa lalu, saya
menggantikan sukacita sejati dengan mengejar kekayaan. Saya berpikir sukacita
sejati adalah pengejaran kekayaan. Mengapa? Marilah saya mengarahkan pandangan
Anda ke sini. Di ranjang pesakitan saya, saya tidak menjumpai sukacita apapun
dalam bentuk apapun, saya memiliki – Ferrari, memikirkan tanah yang akan saya
beli untuk didirikan villa, dlsb, mempunyai bisnis yang sukses. Semuanya
membawa saya ke titik nyaman NOL, sukacita NOL, tidak satu pun. Apakah Anda
berpikir bahwa saya dapat bersandar kepada potongan logam (Ferrari) yang akan memberikan sukacita sejati? Nah, itu tidak akan
terjadi.
Sukacita sejati berasal dari hubungan dengan orang lain. Dan
seringkali pada masa laluku hal itu dikaitkan dengan kebanggaan jangka pendek.
Bila Anda mengejar kekayaan, Tahun Baru Imlek adalah saat terbaik untuk
mewujudkannya. Menyetir Ferrari saya, memamerkannya kepada para kerabat,
memamerkan kepada teman-teman saya, berkeliling dengannya, lalu Anda mengira
bahwa itulah sukacita sejati? Anda benar-benar menyangka bahwa mereka yang
kagum kepada Ferrari Anda, akan berbagi sukacita dengan Anda? Kerabat Anda
berkata “wow”, apakah mereka berbagi sukacita ini dengan Anda? Sesungguhnya,
apa yang Anda lakukan hanyalah membangkitkan iri hati, kecemburuan dan bahkan
kebencian. Mereka tidak berbagi sukacita dengan Anda. Apa yang saya miliki
sebagai kebanggaan jangka pendek – yang wow keren, sesungguhnya berarti “saya
memiliki sesuatu yang tidak kalian miliki!” Saya mengira itulah sukacita! Jadi
apa yang kita miliki sesungguhnya adalah di atas ketidakmampuan (penderitaan)
orang lain. Itu bukanlah sukacita yang sejati. Dan saya tidak menjumpai
sukacita apapun di atas ranjang pesakitan saya, memikirkan Ferrari saya –
bersandar kepadanya, sayang kepadanya?
Sukacita sejati saya temukan berasal dari hubungan dengan
orang lain. Lebih dari beberapa bulan terakhir ini saya sangat sedih. Tetapi
melalui hubungan dengan orang yang saya kasihi, teman-teman saya,
saudara-saudari saya di dalam Kristus, saya dapat terdorong dan bangkit. Dapat
berbagi penderitaan dan kebahagiaan Anda – itulah sukacita sejati. Tahukah Anda
apa yang membuat Anda tersenyum? Sukacita sejati berasal dari menolong sesamamu
dalam kesusahan, dan karena saya telah melewati hal ini, saya mengetahui apa
yang diperlukan ketika mengalami kesulitan.
Faktanya, beberapa penderita kanker memberi tahu saya,
berulang kali orang-orang mendatangi mereka dan mengatakan, “Berpikirlah
positif. Berpikirlah positif.” Ya, itu benar. Ayo pakailah sepatu saya (alamilah situasi saya) dan cobalah
berpikir positif! Anda tidak tahu apa yang Anda katakan! Namun sebagai sesama
penderita kanker, saya memiliki izin (hak).
Jadi, saya pergi keluar untuk bertemu dengan sesama penderita kanker, berbagi
dengan mereka, menyemangati mereka. Saya tahu, karena saya telah mengalaminya,
dan lebih mudah bagi saya untuk berbicara kepada mereka.
Dan yang terpenting, saya merasa bahwa sukacita sejati
berasal dari pengenalan akan Allah. Maksud saya - bukan mengenal Allah sekedar
dari membaca Alkitab – tetapi pengenalan terhadap Allah secara pribadi;
memiliki hubungan yang intim dengan Allah. Saya merasa itulah yang terpenting.
Itulah yang telah saya pelajari.
Jadi saya menyimpulkan, semakin dini kita mengenali prioritas
dalam hidup kita, semakin baik keadaan kita. Jangan seperti saya – saya tidak
memiliki jalan lain. Saya harus mengenali prioritas itu melalui jalan yang
berat. Saya harus kembali kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya atas kesempatan
ini karena sebenarnya saya telah mengalami 3 kecelakaan besar di masa lalu –
tabrakan mobil. Anda tahu – kecelakaan mobil balap – saya selalu ngebut, tetapi
entah bagaimana saya selalu luput dan tetap hidup, bahkan dengan mobil yang
hampir terbalik sama sekali, dan saya mungkin saja tidak punya kesempatan untuk
lolos dari maut. Tetapi sayang, saya masih tidak tahu ke mana seharusnya saya
pergi! Walaupun saya telah dibaptis, hal itu hanyalah sebuah pertunjukan,
tetapi faktanya hal ini terjadi, supaya saya ada kesempatan berbalik kepada
Allah.
Beberapa
hal yang saya telah pelajari:
1.
Kasihilah
Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu – ini sangatlah penting.
2.
Kasihilah
dan layanilah orang lain, tidak hanya melayani diri sendiri.
Tidak salah dengan kekayaan dan kesuksesan. Saya rasa hal itu
mutlak benar, karena Allah memberkati. Banyak orang diberkati dengan
kesuksesan, tetapi masalahnya, saya rasa banyak di antara kita tidak dapat mengendalikan
hal itu. Semakin banyak yang kita miliki, semakin besarlah keinginan kita. Saya
telah melewati hal itu, semakin dalam lubang yang kita buat, semakin kita
terhisap ke dalamnya, begitu mudahnya kita menyembah pada kesuksesan dan
kehilangan fokus. Tidak menyembah Allah, sebaliknya menyembah kesuksesan.
Itulah insting manusia. Sangatlah sulit keluar dari hal itu.
Kita semua orang berprofesi, dan kita akan menjalankan
praktek pribadi, kita mulai membangun kesuksesan – tanpa batas. Jadi pendapat
saya, ketika Anda mulai membangun kesuksesan dan ketika kesempatan datang,
tolong ingatlah bahwa semua ini bukanlah milik kita. Kita tidak sungguh-sungguh
memilikinya atau mempunyai hak atas kekayaan ini. Semua itu adalah pemberian
Allah kepada kita. Ingatlah bahwa lebih penting meluaskan Kerajaan-Nya dari
pada meluaskan diri kita.
Lagipula, saya berpendapat bahwa saya telah melaluinya dan
saya mengetahui bahwa kekayaan tanpa Allah itu hampa. Sebagai kaum profesi dan
bagi Anda semuanya yang sedang membangun kesuksesan Anda setahap demi setahap,
lebih penting Anda mengisi kesuksesan Anda dengan kekayaan Allah.
Saya rasa saya sudahi dulu. Senang bisa berbagi. Terima
kasih.
Comment : Thanx buat Ce Agustine yg udah terjemahin ke bahasa Indonesia.
"Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha
menjaring angin....Pengkhotbah 1:14"